Totto Chan : Gadis Cilik di Jendela

PhotoGrid_1384443878144

  1. I.                     Identitas Buku

Judul                     : Totto-Chan Gadis Cilik di Jendela

Penterjemah     : Widya Kirana

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun  Terbit     : 2004

Cetakan               : Kelima

Tebal Buku          : 271 halaman

Pengarang          : Tetsuko Kuroyanagi

  1. II.                  Pendahuluan

Ketika membaca novel Totto Chan kedua kalinya terasa seperti membaca pertama kali. Sungguh sangat mengesankan sekali dan tidak membosankan. ART di rumah saja suka membaca novel ini padahal cukup berat novel ini. Novel ini terasa polos, humanis dan tidak menggurui. Novel ini penuh pesan untuk “memanusiakan manusia” melalui pendidikan. Novel ini dikemas dengan bahasa yang renyah dan ringan.

Setting novel adalah awal tahun 1940-an dan berakhir pertengahan 1945 ketika Jepang kalah dalam perang pasifik. Sekolah Tomoe Gakuen yang hancur karena dibom oleh Sekutu. Model pendidikan yang kontroversial di masa itu. Karena mengedepankan murid sebagai subyek, Guru sebagai fasilitator. Padahal, masa itu adalah masa feodalisme masih kental di Jepang.

“Aku tidak mengarang-ngarang satu bagian pun. Semua kejadian itu benar-benar terjadi, dan untunglah, aku bisa mengingat-ingat cukup banyak” . Itulah yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi selaku penulis novel ini.

Novel ini adalah kenyataan yang berdasarkan ingatan masa kecil Tetsuko. Karena hanya ingatan masa kescil maka Tetsuko tidak mau mengatakan bahwa ini adalah karangan non fiksi. Tetsuko Kuroyanagi mempunyai panggilan Totto-Chan sehingga Judul Novel ini adalah Totto-Chan Gadis Cilik di Jendela.

Hebat, Sistem pendidikan yang tertulis dalam Novel ini baru diterapkan di dunia pendidikan tdi Indonesia secara “resmi” awal tahun 2000-an. Ini ditandai dengan munculnya Kurikulum KTSP, Sekolah Alam, Sekolah Terpadu dan Sekolah RSBI.

Jepang sudah mengalami dialektika sistem pendidikan ini sejak enam dekade yang lalu dan bersintesa di era masa kini. Jepang menjelma menjadi negara maju dengan fondasi SDM yang kuat. Rentang waktu kurang lebih enam dekade antara Indonesia dan Jepang. Itu bisa dilihat secara kasat mata tanpa harus dengan analisa yang mendalam.

Model pendidikan yang dikembangkan Mr Kobayashi sang Kepala Sekolah Tomoe Gakuen dikenal sebagai sekolah alam pada saat ini. Pendidikan yang diselaraskan dengan kecenderungan belajar siswa dikenal sebagai Multiple Intelligence Education. Munif Chatib sangat getol mengembangkan model ini.

Paradigma pendidikan Sekolah Tomoe Gakuen adalah Student Centered Learning. Siswa dibebaskan untuk membuat urutan pelajaran sesuai dengan minatnya. Praktek langsung di lapangan dengan sang ahli. Siswa belajar langsung dari sang ahli. Guru wajib mengajar dengan cerdas dan kreatif untuk mengoptimalkan potensi siswa tanpa menggurui.

Itu semua menjadi paradigma pendidikan Indonesia baru di awal 2000-an. Guru bukan sebagai Dewa yang serba tahu, Guru bukan manusia tanpa dosa dan Guru bukan orang yang selalu benar. Guru adalah Pengayom, fasilitator dan pelayan siswa untuk meningkatkan kualitas hidup siswa. Kurikulum 2004 dikenal dengan dengan kurikulum KTSP dan dilanjutkan kurikulum 2013.

Jepang  telah menjadikan buku ini sebagai materi pelajaran melalui kementrian pendidikan tahun 1982. Seperti yang ditulis Tetsuko Kuroyanagi dalam catatan akhir novel ini. “Buku ini sekarang resmi menjadi materi pengajaran dengan persetujuan kementrian pendidikan, bab Guru Pertanian akan digunakan di kelas tiga pelajaran bahasa jepang dan bab Sekolah Tua yang Usang di kelas empat untuk pelajaran etika dan budi pekerti”.

Sekolah inklusi sebagai wujud penghargaan HAM dan memberi kesempatan yang sama ke setiap manusia sudah dilakukan oleh Sekolah Tomoe Gakuen. Tomoe Gakuen menerima murid difabel yaitu Yasuaki Chan. Dia adalah penderita polio yang merasa gembira belajar di  sekolah Tomoe Gakuen.

Yasuaki Chan adalah sahabat karib Totto Chan. Mereka saling menghargai atas segala kelebihan dan kekurangan. Ini hasil pendidikan Tomoe Gakuen yang mengajarkan bahwa setiap manusia adalah indah dan setiap anak adalah baik. Pikiran anak yang polos dan disuntik dengan positive thinking  membuat mereka merasa bahwa sekolah itu indah.

Ini dapat diketahui dalam bagian Pelajaran berenang di Tomoe Gakuen. Anak diwajibkan berenang dengan telanjang baik anak yang sehat secara jasmani maupun yang cacat. Sehingga semua anak melihat semua bagian tubuh temannya tanpa mencela dan tanpa risih. . Tidak ada perbedaan perlakuan dan dihormati semua temannya. Tetapi, kita tidak harus meniru semua yang ada di Tomoe Gakuen.

Semboyan “ciptakan memori indah masa kecilmu” sangat tepat dilakukan di sekolah Tomoe Gakuen.  Murid-murid Tomoe Gakuen sering bertemu di pertemuan alumni.  Mereka sangat terkesan dengan pengalaman belajar di Tomoe Gakuen. Bahkan, Novel Totto Chan sudah terbit sekuelnya pada tahun 2010.  Totto Chan yang berkeliling dunia sebagai duta UNHCR menceritakan pengalamannya tentang anak-anak di berbagai belahan dunia.

Novel ini sangat cocok bagi mahasiswa calon guru, guru dan guru senior sekalipun. Novel ini mengingatkan kita semua tentang hakikat pendidikan dan manusia itu sendiri. Guru ternyata bukan hanya sebuah profesi belaka namun sebuah panggilan jiwa. Kesuksesan pendidikan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh guru-guru yang terlibat.

Kelebihan

Kelebihan novel ini adalah kepolosan dan cita rasa humanisme. Novel ini begitu mengalir dan tanpa dibuat-buat. Novel yang berisi dunia anak yang penuh kegembiraan dan keceriaan. Kita tidak menemukan intrik atau konflik dalam novel ini. Tidak ada penokohan antagonis atau protagonis. Plotnya datar-datar saja, tidak ada lonjakan dan tidak turun bahkan tidak ada klimaks. Novel  ini seolah-olah kita mendengarkan anak yang berceloteh.

Novel ini terasa renyah dan ceria untuk dibaca tanpa mengurangi kedalamannya. Jika dibandingkan dengan Laskar Pelangi masih yang ”menjual” kepedihan hidup, kesengsaraan dan ketidakadilan. Meskipun, Apabila kita membaca Novel Totto Chan maka masih dapat dirasakan kepedihan hidup saat itu.

Bagian yang menyedihkan antara lain : Bagian akhir novel yang menceritakan bagaimana Mr Kobayashi memandang sedih ke sekolah Tomoe Gakuen yang terbakar karena terkena Bom Sekutu. Totto Chan yang berkunjung di rumah sakit untuk menjenguk tentara jepang yang menjadi korban perang. Penulis mampu menceritakan dengan bahasa yang optimis dan tegar. Sehingga, Novel Totto Chan terasa lebih renyah, ceria dan mengharu biru tanpa “menjual” kepedihan sang tokoh cerita.

Penulis lebih unik lagi menggambarkan pola pendidikan di Tomoe Gakuen secara detail. Penulis seperti dengan sengaja menceritakan sistem pendidikan di Tomoe Gakuen. Mulai dari hari petama masuk, Mr Kobayashi yang dengan sabar mendengar celoteh Totto Chan tentang berbagai hal selama emopat jam penuh.

Berkunjung kuil Kuhonbutsu, Jalan-jalan menyusuri sawah dengan misi terselubung yaitu belajar tanaman dan hewan, Acara makan siang tentang “Makanan dari Laut dan Makanan dari Gunung” yang memnpelajari Gizi Seimbang, Belajar Euritmik untuk melatih konsentrasi, Pesta Olahraga untuk memotivasi Takahashi yang tubuhnya kecil, Berkebun dengan Pak Tani sebagai gurunya dsb

Penulis ingin menyampaikan tentang sebuah sistem pendidikan alternatif daripada bercerita tentang tokoh utamanya sendiri yaitu Totto Chan. Penulis menekankan  tentang sekolah “Tomoe Gakuen” itu sendiri. Tokoh Utama yaitu Totto Chan tidak diceritakan dominan. Tokoh cerita seolah-olah menjadi narator bagi Tomoe Gakuen

Totto Chan adalah siswa pada umumnya yang bercerita masa indah di sekolah. Dia lebih suka bercerita keunikan teman-temannya. Bahkan, Ending Novel ini tidak berakhir dengan kesuksesan si Totto Chan namun kebersamaan dengan kawan-kawannya sampai masa tua mereka.

Kelemahan

Kelemahan novel karena plot yang datar-datar saja. Seakan-akan, tidak “gairah” dalam novel ini. Tidak ada yang naik tajam, turun yang curam atau memutar-mutar yang membuat kita sulit menduga ending sebuah novel. Jika kita membaca novel Dan Brown , Harry Potter atau John Grisham maka terasa sekali kenikmatan alur plot yang berlika-liku.

Teman sekolah S2 saya pernah mengataka bahwa Novel Agatha Christie sangat menarik. Karena kita tidak mampu menerka ending cerita. Semakin membaca semakin penasaran saja. Kalau Novel Totto Chan maka plot yang lurus dan polos. Ending yang kurang menggigit.

Dramatisasi juga diperlukan untuk memperindah sebuah novel. Tokoh Antagonis yang cerdas dan cerdik. Pergerakan tokoh antagonis yang tak terduga sungguh menarik. Bahkan untuk beberapa novel tertentu tokoh antagonis dibuat lebih “smart” daripada tokoh protagonis. Bahkan kemenangan tokoh protagonis bukanhal yang istimewa. Beberapa novel bahkan “menggantung” akhir cerita sehingga menjadi misteri. Ini yang menarik.

Novel Totto Chan tidak ditemukan tokoh antagonis atau protagonis. Semua adalah kawan alias seluruh tokoh adalah tokoh protagonis. Kita tidak menemukan plot yang memuta-mutar. Tidak ada unsur kejutan. Semua lurus-lurus saja. Bagi beberapa penggemar novel mungkin sangat menjemukan sekali.

Happily Ever After adalah akhir yang indah bagi cerita-cerita dongeng. Novel Totto Chan juga demikian yaitu berakhir dengan kebersamaan yang indah. Padahal, Penggemar novel kadang menginginkan akhir cerita yang tidak selalu indah. Akhir cerita yang misterius, tidak terlalu bahagia bahkan kalau perlu tidak ada ending.

Penutup

Aneh, Novel Totto Chan yang berakhir dengan kebahagiaan sangat cocok bagi dongeng anak-anak. Namun, Novel Totto Chan bukan untuk anak-anak. Ini novel adalah konsumsi orang dewasa yang sudah mampu berpikir dan merenung. Memang, fungsi novel ini adalah bahan perenungan.

Inilah keunikan Novel Totto Chan . Novel yang hadir dengan plot yang berbeda. Novel bercitarasa dewasa dengan plot yang cocok untuk anak-anak. Jika anda ingin sekedar hiburan maka novel ini kurang cocok. Kalau anda ingin sedikit berpikir maka novel ini lebih pas.

Novel ini untuk pembaca yang spesifik. Jika anda memiliki perhatian dan berkecimpung dengan dunia pendidikan maka novel ini menarik. Jika anda tidak tertarik dengan dunia pendidikan atau tidak berkecimpung di dunia pendidikan maka Novel Toto Chan tidak menarik.

 

Iklan

About zaki19482

Saya sedang belajar menulis, mencoba menulis segala sesuatu yang dapat dilihat, didengar dam dirasakan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s