Kejeniusan Eyang Pram

Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles

(Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka Yang Terhina) (hal : 646)

Karya Eyang Pram yang ini sungguh “melewati batas zaman”. Kita yang disuguhi cerita tentang Minke pada tetralogi sebelumnya ( Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Jejak Langkah) kemudian diakhiri dengan pembuangan Minke ke tanah Maluku. Tahap Penangkap sampai dengan Pembuangan Minke dipimpin langsung seorang Komisaris Besar Polisi Hindia berdarah Ambon yaitu Jacques Pangemanann.

Rumah Kaca sebagai bagian akhir dari tetralogi ternyata tidak bercerita tentang Minke lagi namun tentang Jacques Pangemanann. Polisi yang menangkap dan membuangnya ke Maluku. Jacques Pangemanann adalah pribumi asli dari Manado yang diangkat anak seorang apoteker berkebangsaan prancis maka dia mempunyai menyandang nama  Jacques.

Jacques Pangemanann diceritakan setelah membuang Minke kemudian pensiun dari dinas Kepolisian. Masa Pensiun bukan diisi bersantai dengan keluarga namun diangkat sebagai staf ahli Algemene Secretarie. Staf Ahli yang menangani operasi khusus untuk menghambat pergerakan organisasi pribumi.

Kisah Spionase di awal abad 20, Eyang Pram menceritakan bagaimana cara Pangemanann menghambat Organisasi Pribumi baik dengan cara paling halus sampai dengan cara yang paling licik. Novel ini sangat terasa paling berat diantara tetralogi tersebut. Operasi Intelijen dengan riset , menganalis, diskusi dan eksekusi di lapangan.

Operasi Intelijen semacam ini yang kerap dilakukan dinasa intelijen manapun. Pemerintah yang menciptakan terror di masyarakat agar tercipta kondisi yang diinginkan. Ini model-model operasi intelijen modern. Sungguh ini kepiawaian Eyang Pram dalam meramu cerita.

Karena jalan ceritanya sebagian berisi diskusi, analisa dan kesimpulan yang dibuat oleh Pangemanann. Eyang Pram ingin menyampaikan gagasan mengenai negeri kita ( Indonesia ) melalui tokoh Pangemanann. Pemikiran, Analisa, Pendapat dan tindakan si Pangemanan adalah tidak lain opini dari Eyang Pram itu sendiri terhadap Indonesia.

Indonesia telah merdeka secara resmi dan syah. Eyang Pram menceritakan bahwa kemerdekaan itu baru sebatas ragawi bukan sampai dengan jiwa manusia Indonesia. Karena eyang Pram menilai bahwa jiwa bangsa Indonesia sama sekali tak berubah sejak zaman Belanda datang ke Indonesia pertama kali sampai saat ini.

Manusia yang kompromistis, penyuka keselarasan dan tidak berprinsip. Coba anda  baca bagian 3 yang berisi diskusi Pangemanann dengan Tuan L mengenai orang jawa dan kejawen. Terlihat jelas pemikiran Eyang Pram namun tersamar dengan nama Pangemanann.

 

“Pertama-tama karena bangsa ini mempunyai watak mencari kesamaan, keselarasan, melupakan perbedaan, untuk menghindari bentrokan sosial. Dia tunduk dan patuh pada ini sampai kadang tak ada batas . Akhirnya dalam perkembangan nya yang sering, ia terjatuh pada satu kompromi ke kompromi lain dan kehilangan prinsip-prinsip. Ia lebih suka penyeseuaian daripada cekcok urusan prinsip” (hal : 125)

 

“Orang Eropa lebih kecil jumlahnya , tapi menang karena prinsip” ( hal : 128)

 

Inilah ketajaman mata hati Eyang Pram. Beliau mampu meneropong tentang manusia Indonesia secara sosiologis maupum antropologis. Beliau tuangkan dalam bentuk novel bukan karya ilmiah yang kadang terasa membosankan.

Analisa Eyang Pram ini masih sangat up-to-date  sampai saat ini.  Jacques Pangemanann adalah gambaran manusia pribumi dari dahulu sampai dengan saat ini. Pangemanann setelah mengantar Minke ke Ambon kemudian meningggalkan surat kepadanya. Minke adalah sahabat dan guru bagi seorang pangemanann.

Minke adalah orang yang terhormat dalam kekalahannya. Pangemanann adalah seorang hamba Gubermen secara pribadi tidak ikut campur dalam menentukan pembuangan Minke ke Maluku

 

Pada akhir catatanku sendiri aku tulis :”Hamba Gubermen ! Orang yang selalu bertanggungjawab dan merasa bertanggungjawab kepada Gubermen, tak pernah bertanggungjawab sendiri kecuali demi keselamatan dan kesenangan hidupnya (hal : 132)

 

 

Pangemanann diceritakan mengalami dilemma karena harus menghancurkan bangsanya sendiri. Pangemanann tak sanggup menolak pekerjaan “kotor” ini karena tuntunan duniawi mengalahkan idealisme dia sebagai seorang terpelajar lulusan Universitas Sorbonne yang termasyhur.

Eyang Pram menggambarkan orang Indonesia dengan begitu pas. Manusia yang sangat complicated. Manusia yang berhasrat atas kedudukan dan kenyamanan yang sering bertentangan dengan nuraninya sendiri namun terus dijalani.

Indonesia tidak bergerak maju bukan karena manusia Indonesia yang bodoh. Manusia Indonesia adalah manusia yang pintar dan cerdik. Indonesia tidak maju karena mental yang rapuh. Mental penikmat dan takut akan resiko dari memegang prinsip hidup dan selalu mengandalkan kompromi yang mesti merugikan salah satu pihak. Alih-alih bangsa lain, yang mereka rugikan adalah bangsanya sendiri . Ini tercermin dari si Pangemanann.

Sejarah mempunyai versinya masing-masing tergantung rezim mana yang berkuasa. Eyang Pram juga memiliki versinya sendiri dari Sejarah Bangsa Indonesia. Syarekat Dagang Islam menurut versi Eyang Pram didirikan oleh Raden Tirto Adi Sudiro atau Minke. Kemudian baru diserahkan ke Tuan Samadi yaitu tak lain H. Samanhudi

Padahal, Pendirian SDI menurut versi pemerintah tercantum di mata pelajaran Sejarah mulai dari SD – SMA. SDI didirikan di Surakarta oleh H. Samanhudi di Surakarta. Itu juga yang diakui oleh Pemerintah . Versi Eyang Pram, SDI didirikan di Buitenzorg kemudian baru dipindahkan ke Solo. Maka, Eyang Pra sangat berhati-hati dalam penulisan tahun dalam novel-nya.

Kecenderungan Eyang Pram terhadap tokoh berhaluan kiri menonjol dalam  “Rumah Kaca” ini. Eyang Pram sering memuji-muji tokoh misal : Sneevlit, Marco dan Semaoen.  Mereka adalah tokoh berhaluan kiri embrio dari Paham Komunis di Indonesia.

Sneevlit adalah pendiri ISDV, cikal bakal Partai Komunis di Indonesia. Pangemanann menyatakan bahwa Sneevlit lebih progresif daripada Boedi Moeljo atau Syarikat Islam. Sneevlit dkk lebih berbahaya karena memakai sebuah aliran filsafat baru ( Komunis????) yang belum dipahami sepenuhnya oleh Pangemanann.

 

Mereka adalah dari Golongan nihilis yang terkutuk. Mereka memang mampu mengekspresikan serta berpikir sangat logis dan membikin orang tersudut tak berdaya. Jelas, mereka berasal dari suatu aliran filsafat baru yang belum kukenal selama ini. Atau lebih tepat pernah kukenal tetapi telah kulupakan ( hal : 388)

 

Marco adalah nama lain dari Markodikromo. Dia adalah tokoh sayap kiri dari Syarikat Islam yang berhaluan sosialis. Marco banyak bergerak di daerah vorstlanden ( Surakarta, Yogyakarta dan Semarang). Tokoh ini adalah didikan Minke yang sangat militant.

Semaoen adalah tokoh yang masuk ke dalam “Rumah Kaca “ si Pangemanannn. Dia adalah tokoh muda progresif. Semaoen adalah tokoh VSTP ( Serikat Buruh Kereta Api) yang selalu menggelorakan perlawanan terhadap  Gubermen. Pada akhirnya bersama Alimin dan Darsono, Semaoen mendirikan Syarikat Islam Merah ( SI Merah) yang berhaluan komunis.

Indsiche Partij adalah partai pertama yang dibentuk di bumi Hindia ini. Pendirinya adalah Douwager alias Douwes Dekke, Wardi alias Suwardi Suryaningrat dan Tjipto alias dr Tjipto Mangunkusumo. Ketiga-tiganya atau D-W-T adalah manusia tanpa pengikut. Mereka pemberani, pintar namun tidak memiliki pengikut. Paling tidak begitu menurut Pangemanann.

Lebih mengenaskan lagi yaitu Boedi Moeljo. Nama samaran dari Boedi Oetomo. Pemimpinnya sudah menjadi dokter Rumah Sakit Zending di Blora Jawatengah. Boedi Moeljo hanya mendirikan sekolah yang menghasilkan Priyayi yang akan selalu setia kepada Gubermen.

Syarikat Islam dipimpin oleh Mas Tjokro. Seorang “Kaisar Tanpa Mahkota”. Dia menjadi pimpinan SI bukan karena dipilih pengikutnya. Karena ketakutan H Samadi atau H Samanhudi kepada Gubermen. Pangemanann yang semakin gencar memberangus musuh Gubermen mengakibatkan H Samadi ketakutan dan harus menyerahkan ke Mas Tjokro. Mas Tjokro adalah nama lain dari HOS Cokroaminoto.

Mas Tjokro tidak mempunyai pengikut yang riil seperti Minke. Mas Tjokro berkeliling Jawa tidak untuk mengunjungi pengikut-pengikutnya namun ke pesantren-pesantren. Mas Tjokro mendapat fasilitas mobil dari Syarikat Islam berbeda dengan Minke yang pejuang militan. Padahal, Mas Tjokro adalah mentor Presiden Soekarno yang akan memimpin kemerdekaan Indonesia.

Eyang Pram lebih menonjolkan tokoh-tokoh dari haluan kiri. Infiltrasi ajaran komunis dalam novel ini memang tidak bisa dibuktikan. Simpati eyang pram kepada tokoh-tokoh haluan kiri lebih kentara. Padahal Republik ini dibangun oleh seluruh rakyat Indonesia baik haluan kiri, kanan maupun tengah.

Namun, hal itu adalah wajar dan syah. Penulis boleh memasukkan apa saja yang dikehendaki. Karena setiap penulis mempunyai misi masing-masing. Sebagaimana Hamka yang mempunyai misi Islam-nya. Hal yang saya sampaikan diatas tidak mengurangi kehebatan “Rumah Kaca”. “ Rumah Kaca” selangkah lebih maju dari zaman dilihat dari alur cerita, intrik yang dibangun dan layak menjadi kandidat Nobel.

Hehehehehe…….!!!! Pemerintah Orde Baru melarang peredaran Novel Bumi Manusia. Sebenarnya kurang pas.Karena kalau mau melarang ya si “Rumah Kaca” ini. Karena Eyang Pram mulai memasukkan ide, pemikiran dan saran pribadinya di “Rumah Kaca”. Apalah artinya? Era sudah berubah menjadi era keterbukaan.

Saya mendapat Novel ini juga secara online. Saya beli dari Palasarionline.com. Penerbitnya saja “Lentera Dipantara” bukan “Hasta Mitra”. Semua sudah terbuka

Iklan

About zaki19482

Saya sedang belajar menulis, mencoba menulis segala sesuatu yang dapat dilihat, didengar dam dirasakan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s