BUMI MANUSIA

Image

Bumi Manusia adalah hasil karya sastra yang menarik dari penulis Pramoedya Ananta Toer. Novel ini adalah bagian dari Tetralogi Novel yang disusun oleh penulisnya. Tetralogi ini adalah Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

Setting novel tersebut yaitu awal tahun 1900-an di daerah Tulangan Wonokromo Surabaya. Masyarakat saat itu adalah masyarakat Hindia Belanda ( Indonesia belum lahir?) dibawah kekuasaan Kerajaan Belanda.

Seolah-olah tidak ada masalah dengan masyarakat saat itu. Semua aman, tentram dan damai. Kehidupan masyarakat berjalan normal. Negeri yang aman dan tentram. Masyarakat yang majemuk terdiri dari Totok, Indo, Cina dan Pribumi.Pribumi juga tidak mempermasalahkan jika mereka dibawah kekuasaan bangsa eropa dan menjadi masyarakat kelas paling bawah di negeri sendiri.

Apalagi transfer teknologi sedang berjalan di negeri ini missal : Pabrik Gula, Pengolahan Susu, Kereta Api dsb. Kemajuan bangsa eropa juga ada di negeri ini yang dikenal sebagai Negara Hindia bukan Indonesia. Pribumi terbuai dengan keadaan itu, tidak ada perlawanan rakyat seperti di Aceh, Sumatera Barat atau Sulawesi.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Minke. Anak seorang Bangsawan keturunan dari Bupati daerah Bojonegoro Jawa Timur. Minke hidup dalam kecukupan dan berpendidikan Belanda yaitu di HBS. Minke mempunyai kelebihan yaitu bidang tulis-menulis dan kecerdasan yang baik.

Interaksi Minke dengan Nyai Ontosoroh memberi pengalaman yang membekas bagaimana begitu buruknya harga diri pribumi di hadapan Belanda. Hukum pemerintah Hindia Belanda memperlakukan mereka secara semena-mena. Karena dia seorang pribumi. Begitu pula yang terjadi kepada Nyai Ontosoroh.

Nyai Ontosoroh yang pandai, cakap dan kaya raya harus kehilangan segala-galanya Karena dia seorang pribumi. Pemerintah Hindia Belanda tidak mengakui bahwa  Annelies adalah putrinya meskipun dia yang melahirkan. Karena Ayahnya adalah Orang Belanda Totok yaitu Herman Mellema.

Perjuangan mendapat pengakuan anak terekam dalam sidang pengadilan Belanda antara Pribumi melawan Pemerintah Belanda. Itu adalah sidang pertama kali antara Pemerintah Belanda melawan pribumi dalam kekuasaan Pemerintah Belanda di Indonesia.

Perlawanan begitu sengit baik melalui jalur hukum maupun media seakan-akan sia-sia.Koneksi Minke yang begitu luas baik dari Pribumi maupun Orang Totok Eropa seolah-olah tidak ada harganya. Hanya karena Nyai Ontosoroh dan Minke adalah Pribumi.

Peristiwa ini sangat membekas di sanubari Minke. Bangsa ini kalah oleh dirinya sendiri. Bangsa ini kalah karena tidak mempunyai harga diri seperti cacing yang melata. Seperti pernyataan Tuan Asisten Residen Wilayah B, “ Tahukah kalian apa yang dibutuhkan bangsa cacing ini?Seorang Pemimpin yang mampu mengangkat derajad mereka kembali”

 

Semua itu membentuk sebuah kesimpulan bahwa Kemajuan dan Kemakmuran di bumi Jawa ini adalah semu belaka. Semua ini adalah penjajahan atas harga diri sebuah bangsa. Minke ingin menjadi pribadi yang mandiri dan bebas dari stratifikasi sosial ( classless civilization) atau menjadi Bumi Manusia.

Karena novel Bumi Manusia membicarakan manusia yang sama atau manusia tanpa kelas maka membuat Pemerintah Orde Baru ( 1980) melarang peredaran buku ini. Karena disinyalir mengajarkan Marxisme  & Leninisme. Meskipun, Buku ini sudah terjual 22000 eksemplar saat itu. Pemerintah hanya mampu menarik 5000 eksemplar novel ini.

 

Iklan

About zaki19482

Saya sedang belajar menulis, mencoba menulis segala sesuatu yang dapat dilihat, didengar dam dirasakan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s