SANG PENCERAH

PhotoGrid_1385601218384

I. Identitas Buku

Judul : Sang Pencerah

Penerbit : PT Mizan Publika

Tahun Terbit : 201

Cetakan : Keempat

Tebal Buku : xviii + 461 halaman

Pengarang : Akmal Nasery Basral

II. Pendahuluan

Alhamdulillah, Saya telah menyelesaikan membaca novel “Sang Pencerah”. Novel ini agak unik karena prosesnya terbalik. Biasanya, Film lahir dari sebuah novel dimodifikasi menjadi scenario. Sutradara mengubahnya menjadi film. Ini terjadi di beberapa judul film antara lain : Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih,Harry Potter, dsb

Karena prosesnya terbalik maka penulisnya (Akmal Nasery Basral ) menyebut dengan istilah “Novelisasi” film Sang Pencerah. So, Interpretasi cerita dalam film dan novel hampir tidak ada perbedaan. Novel memperkaya film. Ada beberapa bagian cerita di novel tidak ditemukan di film. Pekerjaan ini lebih sulit karena penulis harus menyesuaikan dengan filmnya.

Novel ini menceritakan tentang kehidupan si Darwis yang kelak akan mendirikan sebuah organisasi massa yang besar di Indonesia. Kehidupan masa kecil, berganti nama menjadi KH. Ahmad Dahlan, pergolakan pemikiran sampai konflik dengan masyarakat hingga berdirinya Muhammadiyah.

Agama yang selama ini condong ke arah pribadi dimodifikasi sebagai asas dan ruh sebuah organisasi masa. Inilah yang dilakukan oleh Darwis. Darwis yang berganti nama menjadi Ahmad KH. Ahmad Dahlan setelah menuntut ilmu di Mekkah . Penulis novel telah mendeskripsikan KH. Ahmad Dahlan se-“manusiawi” mungkin namun tetap saja terasa ada yang berlebihan. Karena alasan sastra atau penguatan tokoh cerita.

Karena karakter tokoh KH. Ahmad Dahlan yang kuat di dalam “Sang Pencerah “maka novel ini menjadi eksklusif. Novel ini pasti diunggulkan oleh pendukung KH. Ahmad Dahlan namun belum tentu oleh umumnya masyarakat. Novel ini menjadi penghormatan bagi beliau. KH. Ahmad Dahlan jelas mempunyai andil bagi negeri ini.

Saya sewaktu belajar sejarah maka yang paling enak dengan menonton film daripada membaca buku. Medio 1990-an, masih banyak film perjuangan meski banyak sekali muatan misi rezim saat itu. Film Perjuangan meski tidak murni namun cukup membantu saya dalam belajar sejarah.

ABG yang suka melihat film “Naruto”. Jangan heran, mereka paham “sejarah” naruto secara tidak langsung. Andaikan biografi Soekarno, Hatta, Syahrir atau Ahmad KH. Ahmad Dahlan dituangkan dalam sebuah film maka makin banyak ABG yang memahami tokoh-tokoh bangsa. Hal ini juga berlaku dengan komik dan novel. Lebih mudah belajar dalam situasi informal daripada formal (baca : sekolah).

Kembali ke “Sang Pencerah”. Hehehehe….!!!! Kejumudan umat Islam karena terbelenggu oleh segala sesuatu yang bersifat mistikus, irasional dan takhyul. Maka, Ahmad KH. Ahmad Dahlan berpikir bahwa umat Islam harus kembali ke Al-qur’an dan Sunnah serta peran akal harus diberi porsi lebih besar. Karena kemunduran umat Islam disebabkan oleh tertutupnya logika yang disebut Taklid.

Apabila rasio diberi peran lebih besar maka kemajuan akan diraih dan umat Islam yang berkemajuan akan terwujud. Pembaharuan yang membawa kemajuan dan pembebasan dari penjajahan. Kemajuan yang berada dalam koridor Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Karakter KH. Ahmad Dahlan yang kritis menyebabkan konflik di dalam dirinya sendiri dan lingkungan sekitar. KH. Ahmad Dahlan terbuka dengan perkembangan zaman dan berpegang ke Al-qur’an dan Al-Hadits namun kritis dengan budaya yang tidak berkemajuan.

Karena KH. Ahmad Dahlan menerima peradaban barat maka dia dianggap “kyai kafir”. Karena segala sesuatu yang berbau barat diasosiasikan dengan kekafiran. KH. Ahmad Dahlan setuju jika peradaban barat yang bertentangan dengan syariat islam maka harus ditolak. Tetapi, jika peradaban barat tidak bertentangan dengan syariat Islam maka boleh diterima.

KH. Ahmad Dahlan menggunakan Biola dalam strategi dakwah. Berarti KH. Ahmad Dahlan menggunakan musik dalam dakwah. Karena beliau tidak menganggap penggunaan biola menyalahi syariat Islam bahkan sarana dakwah. Ini salah satu contoh keterbukaan KH. Ahmad Dahlan terhadap peradaban barat yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.

KH. Ahmad Dahlan bukan tipe ‘ulama yang hanya suka berbicara. Beliau juga adalah manusia aksi. KH. Ahmad Dahlan berusaha mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan nyata. Oleh sebab itu, pertentangan semakin meruncing. KH. Ahmad Dahlan langsung bekerja saat para penentang hanya berbicara.

Muhammadiyah adalah organisasi pembaharu (modernisasi) dan gerakan pemurnian Islam. Muhammadiyah menerima “produk” kemajuan zaman asalkan tidak menyelisihi Al-qur’an dan Al-Hadits. Gerakan ini dipengaruhi oleh gerakan pembaharu yang dimotori Syeh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.

Ada sedikit kejutan dalam novel ini. KH. Ahmad Dahlan yang menentang ritual yng bertentangan dengan syariat Islam ternyata tidak ditentang oleh Ngarsa Dalem yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Ngarsa Dalem yang hidup dalam lingkungan feodal namun berpikiran terbuka. Sri Sultan tidak menghalangi KH. Ahmad Dahlan. Ngarsa Dalem hanya meminta jangan menganggu kewibawaan Masjid Agung Kauman.

Mengapa ini kejutan besar ? Karena Keraton adalah pusat ritual yang ditentang oleh KH. Ahmad Dahlan. Ngarsa Dalem tentu saja pihak yang sangat bertanggung jawab atas kelangsungan ritual hingga turun-temurun. Karena keterbukaan dan kemajuan pemikiran Ngarsa Dalem, maka KH. Ahmad Dahlan dibiayai untuk naik haji dan mendalami Islam di Tanah Suci Mekkah.

Ngarsa Dalem yang mendukung Boedi Oetomo dalam memajukan rakyat. Ngarsa Dalem yang menengahi perselisihan KH. Ahmad Dahlan dan Kyai Kamaludiningrat dengan cara mengirim KH. Ahmad Dahlan ke Tanah Suci Mekkah. Konflik dapat berhenti untuk sementara. Ngarsa Dalem menyadari ada perbedaan besar dengan KH. Ahmad Dahlan dalam beberapa hal. Namun, Ada kepentingan yang lebih besar.

III. Kelebihan

Novel ini dengan sudut pandang orang kesatu yaitu “Aku”. KH. Ahmad Dahlan menceritakan kisah hidupnya sendiri. KH. Ahmad Dahlan bercerita mulai dari kehidupan masa kecil, remaja, pemuda sampai dewasa sampai berdiri organisasi Muhammadiyah. Kisahnya tentang kegembiraan, kesedihan, perjuangan dan tetesan air mata.

Kisah Ahmad KH. Ahmad Dahlan adalah kisah yang kompleks mulai konflik diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Kita membaca novel ini menjadi paham bahwa Muhammadiyah adalah kristalisasi perjuangan KH. Ahmad Dahlan. Karena melalui Muhammadiyah maka ide-ide KH. Ahmad Dahlan diaplikasikan secara nyata.

Novel ini terasa lebih polos dan apa adanya. Bahwa seorang ‘Ulama kadang bisa bersikap terpuji dan kadang diluar dugaan. ‘Ulama ternyata juga manusia yang tidak lepas dari salah dan dosa. Terbukti, Langgar Kidul yang dibakar karena atas perintah Kyai Penghulu Keraton Jogjakarta Hadiningrat. Karena langgar kidul berbeda kiblat sholat berbeda dengan Masjid Gedhe Kauman.

Apabila membaca novel ini maka kita secara tidak langsung belajar kehidupan kaum santri di Indonesia. Mereka hidup dalam kaidah dan norma yang unik. Kita ambil contoh pelaksanaan Sholat Juma’t dan pekerjaan sampingan kyai selain pendakwah yaitu pedagang.

Fakta bahwa Boedi Oetomo adalah mentor KH. Ahmad Dahlan dalam mendirikan Muhammadiyah adalah sesuatu yang menarik. Karena untuk mendirikan Muhammadiyah maka harus masuk Boedi Oetomo dahulu. Karena pemerintah Belanda hanya percaya bahwa kaum terpelajar yang mampu mendirikan Organisasi.

Boedi Oetomo beranggotakan kaum terpelajar. Anggota Boedi Oetomo yang ingin mendirikan Organisasi maka diizinkan oleh Belanda. Agar pendirian Muhammadiyah lancar maka KH. Ahmad Dahlan dan santri-santri masuk menjadi anggota Boedi Oetomo.

Boedi Oetomo membantu dalam menyusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rimah Tangga Muhammadiyah. Ahmad KH. Ahmad Dahlan dibantu oleh tokoh Boedi Oetomo yang juga kerabat dekat Dr Wahidin Soedirohoesodo. Dia adalah Joyosumarto.

IV. Kekurangan

Novel ini diterbitkan setelah film sudah ditayangkan. Novel ini menjadi terbatas dalam eksplorasi cerita. Seandainya, Novel hadir terlebih dahulu maka alur cerita lebih menarik. Karena penulis lebih bebas berimajinasi. Laskar Pelangi lebih menyenangkan dalam cerita novel daripada film. Masih banyak lagi seperti Harry Potter, Twillight Saga atau The Firm.

Penulis harus mengikuti alur yang skenario sudah ada dan ditambahi fakta kemudian didramatisasi. Kelihatan secara teori mudah. Hmmmm, prakteknya bisa bikin pusing kepala. Hehehehehe….!!!!! Tema yang ditampilkan juga terbatas tentang KH. Ahmad Dahlan saja. Santri-Santri KH. Ahmad Dahlan sebenarnya masih bisa dieksplorasi namun tidak mungkin.

Pembaca lebih mudah menduga ending cerita. Ending cerita adalah berdiri Muhammadiyah. Curiosity adalah faktor yang penting dalam novel. Karena tanpa itu, Novel terasa hambar. Tidak ada curiosity, passion dan kejutan.

Muhammadiyah adalah kesimpulan dalam novel ini. Kalau penulis novel tidak piawai menulis maka jadi novel documenter ( hehehehe…!!! Maaf itu istilah saya). Novel boleh saja ditulis sedikit “fiksi” sedikit variasi dari fakta asal tidak merusak sejarah.

Misal : Eyang Pram dalam menceritakan Raden Tirto Adi Suryo masih terasa fiksi dalam tetralogi Pramoedya Ananta Toer. Kita menjadi bertanya-tanya tokoh dalam novel “Bumi Manusia” itu nyata atau tokoh fiksi rekaan Eyang Pram? Kita jadi curios. Sejarah Indonesia sudah dikenal bahwa RTAS adalah tokoh pers nasional.

Karena eyang Pram menulis peran RTAS sangat detail dan pengaruh yang luas dalam dunia pergerakan perjuangan Indonesia. RTAS adalah tokoh dari segala tokoh pergerakan. RTAS telah bergerak bahkan sebelum Boedi Oetomo berdiri. Hehehehe…!!! Karena nggak ada di buku sejarah. Maka, saya sebagai pembaca merasa curios dengan novel Bumi Manusia. Mau dianggap Sejarah tetapi ada di Novel. Bingung khan….!!!

Sehingga yang membaca “Sang Pencerah” terasa membaca karangan non fiksi. Bagian yang terperinci adalah konflik-konflik selama hidup sang tokoh. Keindahan novel masih kurang. Menurut saya, tidak ada sense of curiosity.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Totto Chan : Gadis Cilik di Jendela

PhotoGrid_1384443878144

  1. I.                     Identitas Buku

Judul                     : Totto-Chan Gadis Cilik di Jendela

Penterjemah     : Widya Kirana

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun  Terbit     : 2004

Cetakan               : Kelima

Tebal Buku          : 271 halaman

Pengarang          : Tetsuko Kuroyanagi

  1. II.                  Pendahuluan

Ketika membaca novel Totto Chan kedua kalinya terasa seperti membaca pertama kali. Sungguh sangat mengesankan sekali dan tidak membosankan. ART di rumah saja suka membaca novel ini padahal cukup berat novel ini. Novel ini terasa polos, humanis dan tidak menggurui. Novel ini penuh pesan untuk “memanusiakan manusia” melalui pendidikan. Novel ini dikemas dengan bahasa yang renyah dan ringan.

Setting novel adalah awal tahun 1940-an dan berakhir pertengahan 1945 ketika Jepang kalah dalam perang pasifik. Sekolah Tomoe Gakuen yang hancur karena dibom oleh Sekutu. Model pendidikan yang kontroversial di masa itu. Karena mengedepankan murid sebagai subyek, Guru sebagai fasilitator. Padahal, masa itu adalah masa feodalisme masih kental di Jepang.

“Aku tidak mengarang-ngarang satu bagian pun. Semua kejadian itu benar-benar terjadi, dan untunglah, aku bisa mengingat-ingat cukup banyak” . Itulah yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi selaku penulis novel ini.

Novel ini adalah kenyataan yang berdasarkan ingatan masa kecil Tetsuko. Karena hanya ingatan masa kescil maka Tetsuko tidak mau mengatakan bahwa ini adalah karangan non fiksi. Tetsuko Kuroyanagi mempunyai panggilan Totto-Chan sehingga Judul Novel ini adalah Totto-Chan Gadis Cilik di Jendela.

Hebat, Sistem pendidikan yang tertulis dalam Novel ini baru diterapkan di dunia pendidikan tdi Indonesia secara “resmi” awal tahun 2000-an. Ini ditandai dengan munculnya Kurikulum KTSP, Sekolah Alam, Sekolah Terpadu dan Sekolah RSBI.

Jepang sudah mengalami dialektika sistem pendidikan ini sejak enam dekade yang lalu dan bersintesa di era masa kini. Jepang menjelma menjadi negara maju dengan fondasi SDM yang kuat. Rentang waktu kurang lebih enam dekade antara Indonesia dan Jepang. Itu bisa dilihat secara kasat mata tanpa harus dengan analisa yang mendalam.

Model pendidikan yang dikembangkan Mr Kobayashi sang Kepala Sekolah Tomoe Gakuen dikenal sebagai sekolah alam pada saat ini. Pendidikan yang diselaraskan dengan kecenderungan belajar siswa dikenal sebagai Multiple Intelligence Education. Munif Chatib sangat getol mengembangkan model ini.

Paradigma pendidikan Sekolah Tomoe Gakuen adalah Student Centered Learning. Siswa dibebaskan untuk membuat urutan pelajaran sesuai dengan minatnya. Praktek langsung di lapangan dengan sang ahli. Siswa belajar langsung dari sang ahli. Guru wajib mengajar dengan cerdas dan kreatif untuk mengoptimalkan potensi siswa tanpa menggurui.

Itu semua menjadi paradigma pendidikan Indonesia baru di awal 2000-an. Guru bukan sebagai Dewa yang serba tahu, Guru bukan manusia tanpa dosa dan Guru bukan orang yang selalu benar. Guru adalah Pengayom, fasilitator dan pelayan siswa untuk meningkatkan kualitas hidup siswa. Kurikulum 2004 dikenal dengan dengan kurikulum KTSP dan dilanjutkan kurikulum 2013.

Jepang  telah menjadikan buku ini sebagai materi pelajaran melalui kementrian pendidikan tahun 1982. Seperti yang ditulis Tetsuko Kuroyanagi dalam catatan akhir novel ini. “Buku ini sekarang resmi menjadi materi pengajaran dengan persetujuan kementrian pendidikan, bab Guru Pertanian akan digunakan di kelas tiga pelajaran bahasa jepang dan bab Sekolah Tua yang Usang di kelas empat untuk pelajaran etika dan budi pekerti”.

Sekolah inklusi sebagai wujud penghargaan HAM dan memberi kesempatan yang sama ke setiap manusia sudah dilakukan oleh Sekolah Tomoe Gakuen. Tomoe Gakuen menerima murid difabel yaitu Yasuaki Chan. Dia adalah penderita polio yang merasa gembira belajar di  sekolah Tomoe Gakuen.

Yasuaki Chan adalah sahabat karib Totto Chan. Mereka saling menghargai atas segala kelebihan dan kekurangan. Ini hasil pendidikan Tomoe Gakuen yang mengajarkan bahwa setiap manusia adalah indah dan setiap anak adalah baik. Pikiran anak yang polos dan disuntik dengan positive thinking  membuat mereka merasa bahwa sekolah itu indah.

Ini dapat diketahui dalam bagian Pelajaran berenang di Tomoe Gakuen. Anak diwajibkan berenang dengan telanjang baik anak yang sehat secara jasmani maupun yang cacat. Sehingga semua anak melihat semua bagian tubuh temannya tanpa mencela dan tanpa risih. . Tidak ada perbedaan perlakuan dan dihormati semua temannya. Tetapi, kita tidak harus meniru semua yang ada di Tomoe Gakuen.

Semboyan “ciptakan memori indah masa kecilmu” sangat tepat dilakukan di sekolah Tomoe Gakuen.  Murid-murid Tomoe Gakuen sering bertemu di pertemuan alumni.  Mereka sangat terkesan dengan pengalaman belajar di Tomoe Gakuen. Bahkan, Novel Totto Chan sudah terbit sekuelnya pada tahun 2010.  Totto Chan yang berkeliling dunia sebagai duta UNHCR menceritakan pengalamannya tentang anak-anak di berbagai belahan dunia.

Novel ini sangat cocok bagi mahasiswa calon guru, guru dan guru senior sekalipun. Novel ini mengingatkan kita semua tentang hakikat pendidikan dan manusia itu sendiri. Guru ternyata bukan hanya sebuah profesi belaka namun sebuah panggilan jiwa. Kesuksesan pendidikan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh guru-guru yang terlibat.

Kelebihan

Kelebihan novel ini adalah kepolosan dan cita rasa humanisme. Novel ini begitu mengalir dan tanpa dibuat-buat. Novel yang berisi dunia anak yang penuh kegembiraan dan keceriaan. Kita tidak menemukan intrik atau konflik dalam novel ini. Tidak ada penokohan antagonis atau protagonis. Plotnya datar-datar saja, tidak ada lonjakan dan tidak turun bahkan tidak ada klimaks. Novel  ini seolah-olah kita mendengarkan anak yang berceloteh.

Novel ini terasa renyah dan ceria untuk dibaca tanpa mengurangi kedalamannya. Jika dibandingkan dengan Laskar Pelangi masih yang ”menjual” kepedihan hidup, kesengsaraan dan ketidakadilan. Meskipun, Apabila kita membaca Novel Totto Chan maka masih dapat dirasakan kepedihan hidup saat itu.

Bagian yang menyedihkan antara lain : Bagian akhir novel yang menceritakan bagaimana Mr Kobayashi memandang sedih ke sekolah Tomoe Gakuen yang terbakar karena terkena Bom Sekutu. Totto Chan yang berkunjung di rumah sakit untuk menjenguk tentara jepang yang menjadi korban perang. Penulis mampu menceritakan dengan bahasa yang optimis dan tegar. Sehingga, Novel Totto Chan terasa lebih renyah, ceria dan mengharu biru tanpa “menjual” kepedihan sang tokoh cerita.

Penulis lebih unik lagi menggambarkan pola pendidikan di Tomoe Gakuen secara detail. Penulis seperti dengan sengaja menceritakan sistem pendidikan di Tomoe Gakuen. Mulai dari hari petama masuk, Mr Kobayashi yang dengan sabar mendengar celoteh Totto Chan tentang berbagai hal selama emopat jam penuh.

Berkunjung kuil Kuhonbutsu, Jalan-jalan menyusuri sawah dengan misi terselubung yaitu belajar tanaman dan hewan, Acara makan siang tentang “Makanan dari Laut dan Makanan dari Gunung” yang memnpelajari Gizi Seimbang, Belajar Euritmik untuk melatih konsentrasi, Pesta Olahraga untuk memotivasi Takahashi yang tubuhnya kecil, Berkebun dengan Pak Tani sebagai gurunya dsb

Penulis ingin menyampaikan tentang sebuah sistem pendidikan alternatif daripada bercerita tentang tokoh utamanya sendiri yaitu Totto Chan. Penulis menekankan  tentang sekolah “Tomoe Gakuen” itu sendiri. Tokoh Utama yaitu Totto Chan tidak diceritakan dominan. Tokoh cerita seolah-olah menjadi narator bagi Tomoe Gakuen

Totto Chan adalah siswa pada umumnya yang bercerita masa indah di sekolah. Dia lebih suka bercerita keunikan teman-temannya. Bahkan, Ending Novel ini tidak berakhir dengan kesuksesan si Totto Chan namun kebersamaan dengan kawan-kawannya sampai masa tua mereka.

Kelemahan

Kelemahan novel karena plot yang datar-datar saja. Seakan-akan, tidak “gairah” dalam novel ini. Tidak ada yang naik tajam, turun yang curam atau memutar-mutar yang membuat kita sulit menduga ending sebuah novel. Jika kita membaca novel Dan Brown , Harry Potter atau John Grisham maka terasa sekali kenikmatan alur plot yang berlika-liku.

Teman sekolah S2 saya pernah mengataka bahwa Novel Agatha Christie sangat menarik. Karena kita tidak mampu menerka ending cerita. Semakin membaca semakin penasaran saja. Kalau Novel Totto Chan maka plot yang lurus dan polos. Ending yang kurang menggigit.

Dramatisasi juga diperlukan untuk memperindah sebuah novel. Tokoh Antagonis yang cerdas dan cerdik. Pergerakan tokoh antagonis yang tak terduga sungguh menarik. Bahkan untuk beberapa novel tertentu tokoh antagonis dibuat lebih “smart” daripada tokoh protagonis. Bahkan kemenangan tokoh protagonis bukanhal yang istimewa. Beberapa novel bahkan “menggantung” akhir cerita sehingga menjadi misteri. Ini yang menarik.

Novel Totto Chan tidak ditemukan tokoh antagonis atau protagonis. Semua adalah kawan alias seluruh tokoh adalah tokoh protagonis. Kita tidak menemukan plot yang memuta-mutar. Tidak ada unsur kejutan. Semua lurus-lurus saja. Bagi beberapa penggemar novel mungkin sangat menjemukan sekali.

Happily Ever After adalah akhir yang indah bagi cerita-cerita dongeng. Novel Totto Chan juga demikian yaitu berakhir dengan kebersamaan yang indah. Padahal, Penggemar novel kadang menginginkan akhir cerita yang tidak selalu indah. Akhir cerita yang misterius, tidak terlalu bahagia bahkan kalau perlu tidak ada ending.

Penutup

Aneh, Novel Totto Chan yang berakhir dengan kebahagiaan sangat cocok bagi dongeng anak-anak. Namun, Novel Totto Chan bukan untuk anak-anak. Ini novel adalah konsumsi orang dewasa yang sudah mampu berpikir dan merenung. Memang, fungsi novel ini adalah bahan perenungan.

Inilah keunikan Novel Totto Chan . Novel yang hadir dengan plot yang berbeda. Novel bercitarasa dewasa dengan plot yang cocok untuk anak-anak. Jika anda ingin sekedar hiburan maka novel ini kurang cocok. Kalau anda ingin sedikit berpikir maka novel ini lebih pas.

Novel ini untuk pembaca yang spesifik. Jika anda memiliki perhatian dan berkecimpung dengan dunia pendidikan maka novel ini menarik. Jika anda tidak tertarik dengan dunia pendidikan atau tidak berkecimpung di dunia pendidikan maka Novel Toto Chan tidak menarik.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , | Tinggalkan komentar

The Best Process Vs The Best Input

Pendidikan di Indonesia mengalami sebuah perkembangan baru. Sekolah konvensional berubah menjadi sekolah unggulan.Maka, berdirilah berbagai macam sekolah seperti : SD Full day School, SD Program Khusus atau SD IT ( Islam Terpadu). Mereka semua mengenalkan diri sebagai sekolah unggulan.

Pengertian unggulan sangat beragam. Unggulan adalah murid-muridnya mempunyai IQ yang tinggi. Unggulan adalah murid-muridnya mempunyai kemampuan kognitif yang tinggi atau berarti mempunyai nilai rapor rata-rata 9,0 ( Ini kenyataan, kemarin diberitahu oleh saudara saya jika rat-rata nilai kelas anaknya adalah 9,0. Wuiiiih hebat sekali….)

Tuntutan unggulan mengakibatkan tekanan kepada anak-anak didik. Mereka tertekan dengan tuntutan orangtuanya yang mempunyai ekspektasi tinggi terhadap hasil belajarnya. Tuntutan sekolah agar selalu berprestasi sehingga mempunyai nilai jual di masyarakat. Tuntutan masyarakat kepada si anak agar diakui sebagai anak pandai.

Sekolah menjadi momok bagi anak. Sekolah mencetak robot “pintar” namun hilang sisi kemanusiaan. Sekolah menjadi tidak nyaman bagi siswa karena dengan segala tuntutan. Sekolah menjadi tidak manusiawi. Sekolah yang tidak “memanusiakan manusia”.

Sekolah unggul adalah sekolah yang memanusiakan manusia (hal:96)

Itu adalah kata Munif Chatib dalam bukunya ”Sekolahnya Manusia”. Sekolah yang menghargai semua kecerdasan anak. Asumsi dasar yang dipakai adalah “TIDAK ANAK YANG BODOH TETAPI ANAK MEMPUNYAI KECENDERUNGAN KECERDASAN TERTENTU”. Anak penderita autis ternyata juga mempunyai kecerdasan tertentu misal : Spasial-Virtual.

“Sekolahnya Manusia” prinsipnya tidak menolak berbagai jenis siswa. “Sekolahnya Manusia” berasumsi tidak anak yang bodoh. Tes yang dilakukan bukan untuk menyeleksi siswa diterima atau ditolak. Tes yang dilakukan adalah Tes MIR ( Multiple Intelligence Research). Tes ini hanya mendeskripsikan kecenderungan belajar siswa. Sehingga anak-anak dikelompokkan berdasarkan kecenderungan cara belajar.

Multiple Intelligences menyarankan kepada kita untuk mempromosikan kemampuan atau kelebihan seorang anak dan mengubur ketidakmampuan atau kelemahan anak ( hal : 78)

“Sekolahnya Manusia” bukan hanya isapan jempol atau teori belaka. Munif Chatib telah membuktikannya di SMP YIMI.  Sekolah yang sudah sekarat karena tidak ada murid. Munif Chatib membangun kembali dengan metode “Sekolahnya Manusia”. Akhirnya, mampu meluluskan 100 % siswanya dengan nilai UAN tinggi kedua di Gresik. (hal : 11 )

Sekolah Unggulan saat ini mengandalkan input siswa yang pintar-pintar secara kognitif. Mereka bahkan mengadakan seleksi berdasarkan nilai UAN. Jika sudah diterima maka para siswa ini dikumpulkan di dalam satu kelas tersendiri yang disebut “kelas unggulan”. Oleh Munif Chatib disebut dengan Tracking  (hal : )

Sekolah Unggulan tipe ini berdasarkan the best input. Maka, kita tidak heran jika mereka secara kognitif berprestasi. Sekolah ini secara tidak sadar mengklasifikasi anak pintar dan anak bodoh. Padahal, Semua anak berpotensi dan semua anak mempunyai gaya belajar masing-masing. Semua anak butuh pengakuan atas kelebihannya.

Munif Chatib menjungkir balikkan konsep diatas. Dalam bukunya “Sekolahnya Manusia”, Sekolah Unggulan adalah Sekolah yang mengandalkan ”the best process”. Dosen saya di S2, Prof Sutama menyatakan bahwa sekolah unggulan adalah sekolah yang mampu mengubah anak bodoh menjadi pintar. Dengan kata lain, Sekolah Unggulan adalah sekolah yang mempunyai proses terbaik dalam proses KBM mengakomodasi semua gaya belajar siswa.

Karena menganut “The Best Process”, calon siswa yang lebih awal mendaftar akan langsung diterima. Tak peduli siswa itu mempunyai nilai ujian akhir SD yang bagus atau jeblok ( hal 9)

Sekolah unggul adalah sekolah yang para gurunya mampu menjamin semua siswa akan dibimbing kea rah perubahan yang lebih baik, bagaimanapun kualitas akademis dan moral yang mereka miliki (hal : 93)

Buku ini cukup inspiratif bagi kalangan guru. Guru disuguhi tema yang berbeda dari biasanya. Guru yang membaca buku ini diharapkan terbuka pikirannya dan menyadari bahwa ada seribu jalan untuk mencerdaskan .

Buku ini meski menyuguhkan tema yang menarik dan debatable  namun juga membingungkan. Karena dalam buku ini tidak menyediakan cerita atau keterangan yang detail bagaimana “sekolah manusia” di kelola sehingga menghasilkan lulusan yang terbaik.

Buku ini lebih condong kepada bidang Psikologi. Maklum, MI sebenarnya adalah bidang di Psikologi. Berisi tentang cerita sukses pelaksanaan Multiple Intelligence namun sedikit bercerita tentang hambatan dan kesulitan dalam proses KBM.

Pengelolaan sekolah berbasis Multiple Intelligence hanya ditulis secara sekilas saja. Pembaca yang haus akan informasi akan dibuat kebingungan karena tidak ada keterangan mengenai pengelolaan sekolah padahal judulnya “Sekolahnya Manusia”.

Mayoritas Guru akan banyak yang menolak karena metode yang begitu repotnya. Terutama Guru-Guru PNS yang merasa sudah nyaman dengan keadaannya sekarang. Mereka akan lebih enggan bersusah payah untuk mengaplikasikan Multiple Intelligence, Toh sekarang kedaan mereka sudah cukup.

Buku ini laris atau Best Seller  lebih karena ide ini cukup baru dan menarik. Ide yang berbeda dari biasanya dan unik. Para Guru tertarik namun jika tidak mempunyai idealism dan keinginan meningkatkan diri maka yang terjadi adalah penolakan terhadap ide buku ini.

Munif Chatib mungkin sengaja hanya sedikit memberi keterangan sehingga pembaca bertanya-tanya. Karena Munif Chatib ingin membuat sekuelnya sehingga nformasi yang disampaikan lebih lengkap. Akan tetapi, Ini menyebabkan pembaca kebingungan untuk menangkap isi pesan buku bahkan bisa jadi menjadi apatis.

Sekuel dari buku ini adalah : “Guruya Manusia”, “Sekolahnya sang Juara. Buku pantas diacungi jempol. Karena memberi ide segar ditengah kejumudan metode pembelajaran. Guru yang ideal akan selalu meningkatkan diri untuk memberikan terbaik untuk anak didiknya. Buku ini akan memenuhi kebutuhan guru ideal dan memacu rasa ingin tahu mereka menjadi yang terbaik.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Kejeniusan Eyang Pram

Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles

(Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka Yang Terhina) (hal : 646)

Karya Eyang Pram yang ini sungguh “melewati batas zaman”. Kita yang disuguhi cerita tentang Minke pada tetralogi sebelumnya ( Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Jejak Langkah) kemudian diakhiri dengan pembuangan Minke ke tanah Maluku. Tahap Penangkap sampai dengan Pembuangan Minke dipimpin langsung seorang Komisaris Besar Polisi Hindia berdarah Ambon yaitu Jacques Pangemanann.

Rumah Kaca sebagai bagian akhir dari tetralogi ternyata tidak bercerita tentang Minke lagi namun tentang Jacques Pangemanann. Polisi yang menangkap dan membuangnya ke Maluku. Jacques Pangemanann adalah pribumi asli dari Manado yang diangkat anak seorang apoteker berkebangsaan prancis maka dia mempunyai menyandang nama  Jacques.

Jacques Pangemanann diceritakan setelah membuang Minke kemudian pensiun dari dinas Kepolisian. Masa Pensiun bukan diisi bersantai dengan keluarga namun diangkat sebagai staf ahli Algemene Secretarie. Staf Ahli yang menangani operasi khusus untuk menghambat pergerakan organisasi pribumi.

Kisah Spionase di awal abad 20, Eyang Pram menceritakan bagaimana cara Pangemanann menghambat Organisasi Pribumi baik dengan cara paling halus sampai dengan cara yang paling licik. Novel ini sangat terasa paling berat diantara tetralogi tersebut. Operasi Intelijen dengan riset , menganalis, diskusi dan eksekusi di lapangan.

Operasi Intelijen semacam ini yang kerap dilakukan dinasa intelijen manapun. Pemerintah yang menciptakan terror di masyarakat agar tercipta kondisi yang diinginkan. Ini model-model operasi intelijen modern. Sungguh ini kepiawaian Eyang Pram dalam meramu cerita.

Karena jalan ceritanya sebagian berisi diskusi, analisa dan kesimpulan yang dibuat oleh Pangemanann. Eyang Pram ingin menyampaikan gagasan mengenai negeri kita ( Indonesia ) melalui tokoh Pangemanann. Pemikiran, Analisa, Pendapat dan tindakan si Pangemanan adalah tidak lain opini dari Eyang Pram itu sendiri terhadap Indonesia.

Indonesia telah merdeka secara resmi dan syah. Eyang Pram menceritakan bahwa kemerdekaan itu baru sebatas ragawi bukan sampai dengan jiwa manusia Indonesia. Karena eyang Pram menilai bahwa jiwa bangsa Indonesia sama sekali tak berubah sejak zaman Belanda datang ke Indonesia pertama kali sampai saat ini.

Manusia yang kompromistis, penyuka keselarasan dan tidak berprinsip. Coba anda  baca bagian 3 yang berisi diskusi Pangemanann dengan Tuan L mengenai orang jawa dan kejawen. Terlihat jelas pemikiran Eyang Pram namun tersamar dengan nama Pangemanann.

 

“Pertama-tama karena bangsa ini mempunyai watak mencari kesamaan, keselarasan, melupakan perbedaan, untuk menghindari bentrokan sosial. Dia tunduk dan patuh pada ini sampai kadang tak ada batas . Akhirnya dalam perkembangan nya yang sering, ia terjatuh pada satu kompromi ke kompromi lain dan kehilangan prinsip-prinsip. Ia lebih suka penyeseuaian daripada cekcok urusan prinsip” (hal : 125)

 

“Orang Eropa lebih kecil jumlahnya , tapi menang karena prinsip” ( hal : 128)

 

Inilah ketajaman mata hati Eyang Pram. Beliau mampu meneropong tentang manusia Indonesia secara sosiologis maupum antropologis. Beliau tuangkan dalam bentuk novel bukan karya ilmiah yang kadang terasa membosankan.

Analisa Eyang Pram ini masih sangat up-to-date  sampai saat ini.  Jacques Pangemanann adalah gambaran manusia pribumi dari dahulu sampai dengan saat ini. Pangemanann setelah mengantar Minke ke Ambon kemudian meningggalkan surat kepadanya. Minke adalah sahabat dan guru bagi seorang pangemanann.

Minke adalah orang yang terhormat dalam kekalahannya. Pangemanann adalah seorang hamba Gubermen secara pribadi tidak ikut campur dalam menentukan pembuangan Minke ke Maluku

 

Pada akhir catatanku sendiri aku tulis :”Hamba Gubermen ! Orang yang selalu bertanggungjawab dan merasa bertanggungjawab kepada Gubermen, tak pernah bertanggungjawab sendiri kecuali demi keselamatan dan kesenangan hidupnya (hal : 132)

 

 

Pangemanann diceritakan mengalami dilemma karena harus menghancurkan bangsanya sendiri. Pangemanann tak sanggup menolak pekerjaan “kotor” ini karena tuntunan duniawi mengalahkan idealisme dia sebagai seorang terpelajar lulusan Universitas Sorbonne yang termasyhur.

Eyang Pram menggambarkan orang Indonesia dengan begitu pas. Manusia yang sangat complicated. Manusia yang berhasrat atas kedudukan dan kenyamanan yang sering bertentangan dengan nuraninya sendiri namun terus dijalani.

Indonesia tidak bergerak maju bukan karena manusia Indonesia yang bodoh. Manusia Indonesia adalah manusia yang pintar dan cerdik. Indonesia tidak maju karena mental yang rapuh. Mental penikmat dan takut akan resiko dari memegang prinsip hidup dan selalu mengandalkan kompromi yang mesti merugikan salah satu pihak. Alih-alih bangsa lain, yang mereka rugikan adalah bangsanya sendiri . Ini tercermin dari si Pangemanann.

Sejarah mempunyai versinya masing-masing tergantung rezim mana yang berkuasa. Eyang Pram juga memiliki versinya sendiri dari Sejarah Bangsa Indonesia. Syarekat Dagang Islam menurut versi Eyang Pram didirikan oleh Raden Tirto Adi Sudiro atau Minke. Kemudian baru diserahkan ke Tuan Samadi yaitu tak lain H. Samanhudi

Padahal, Pendirian SDI menurut versi pemerintah tercantum di mata pelajaran Sejarah mulai dari SD – SMA. SDI didirikan di Surakarta oleh H. Samanhudi di Surakarta. Itu juga yang diakui oleh Pemerintah . Versi Eyang Pram, SDI didirikan di Buitenzorg kemudian baru dipindahkan ke Solo. Maka, Eyang Pra sangat berhati-hati dalam penulisan tahun dalam novel-nya.

Kecenderungan Eyang Pram terhadap tokoh berhaluan kiri menonjol dalam  “Rumah Kaca” ini. Eyang Pram sering memuji-muji tokoh misal : Sneevlit, Marco dan Semaoen.  Mereka adalah tokoh berhaluan kiri embrio dari Paham Komunis di Indonesia.

Sneevlit adalah pendiri ISDV, cikal bakal Partai Komunis di Indonesia. Pangemanann menyatakan bahwa Sneevlit lebih progresif daripada Boedi Moeljo atau Syarikat Islam. Sneevlit dkk lebih berbahaya karena memakai sebuah aliran filsafat baru ( Komunis????) yang belum dipahami sepenuhnya oleh Pangemanann.

 

Mereka adalah dari Golongan nihilis yang terkutuk. Mereka memang mampu mengekspresikan serta berpikir sangat logis dan membikin orang tersudut tak berdaya. Jelas, mereka berasal dari suatu aliran filsafat baru yang belum kukenal selama ini. Atau lebih tepat pernah kukenal tetapi telah kulupakan ( hal : 388)

 

Marco adalah nama lain dari Markodikromo. Dia adalah tokoh sayap kiri dari Syarikat Islam yang berhaluan sosialis. Marco banyak bergerak di daerah vorstlanden ( Surakarta, Yogyakarta dan Semarang). Tokoh ini adalah didikan Minke yang sangat militant.

Semaoen adalah tokoh yang masuk ke dalam “Rumah Kaca “ si Pangemanannn. Dia adalah tokoh muda progresif. Semaoen adalah tokoh VSTP ( Serikat Buruh Kereta Api) yang selalu menggelorakan perlawanan terhadap  Gubermen. Pada akhirnya bersama Alimin dan Darsono, Semaoen mendirikan Syarikat Islam Merah ( SI Merah) yang berhaluan komunis.

Indsiche Partij adalah partai pertama yang dibentuk di bumi Hindia ini. Pendirinya adalah Douwager alias Douwes Dekke, Wardi alias Suwardi Suryaningrat dan Tjipto alias dr Tjipto Mangunkusumo. Ketiga-tiganya atau D-W-T adalah manusia tanpa pengikut. Mereka pemberani, pintar namun tidak memiliki pengikut. Paling tidak begitu menurut Pangemanann.

Lebih mengenaskan lagi yaitu Boedi Moeljo. Nama samaran dari Boedi Oetomo. Pemimpinnya sudah menjadi dokter Rumah Sakit Zending di Blora Jawatengah. Boedi Moeljo hanya mendirikan sekolah yang menghasilkan Priyayi yang akan selalu setia kepada Gubermen.

Syarikat Islam dipimpin oleh Mas Tjokro. Seorang “Kaisar Tanpa Mahkota”. Dia menjadi pimpinan SI bukan karena dipilih pengikutnya. Karena ketakutan H Samadi atau H Samanhudi kepada Gubermen. Pangemanann yang semakin gencar memberangus musuh Gubermen mengakibatkan H Samadi ketakutan dan harus menyerahkan ke Mas Tjokro. Mas Tjokro adalah nama lain dari HOS Cokroaminoto.

Mas Tjokro tidak mempunyai pengikut yang riil seperti Minke. Mas Tjokro berkeliling Jawa tidak untuk mengunjungi pengikut-pengikutnya namun ke pesantren-pesantren. Mas Tjokro mendapat fasilitas mobil dari Syarikat Islam berbeda dengan Minke yang pejuang militan. Padahal, Mas Tjokro adalah mentor Presiden Soekarno yang akan memimpin kemerdekaan Indonesia.

Eyang Pram lebih menonjolkan tokoh-tokoh dari haluan kiri. Infiltrasi ajaran komunis dalam novel ini memang tidak bisa dibuktikan. Simpati eyang pram kepada tokoh-tokoh haluan kiri lebih kentara. Padahal Republik ini dibangun oleh seluruh rakyat Indonesia baik haluan kiri, kanan maupun tengah.

Namun, hal itu adalah wajar dan syah. Penulis boleh memasukkan apa saja yang dikehendaki. Karena setiap penulis mempunyai misi masing-masing. Sebagaimana Hamka yang mempunyai misi Islam-nya. Hal yang saya sampaikan diatas tidak mengurangi kehebatan “Rumah Kaca”. “ Rumah Kaca” selangkah lebih maju dari zaman dilihat dari alur cerita, intrik yang dibangun dan layak menjadi kandidat Nobel.

Hehehehehe…….!!!! Pemerintah Orde Baru melarang peredaran Novel Bumi Manusia. Sebenarnya kurang pas.Karena kalau mau melarang ya si “Rumah Kaca” ini. Karena Eyang Pram mulai memasukkan ide, pemikiran dan saran pribadinya di “Rumah Kaca”. Apalah artinya? Era sudah berubah menjadi era keterbukaan.

Saya mendapat Novel ini juga secara online. Saya beli dari Palasarionline.com. Penerbitnya saja “Lentera Dipantara” bukan “Hasta Mitra”. Semua sudah terbuka

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , | Tinggalkan komentar

Jejak Langkah

Jejak Langkah

Perjuangan Minke memasuki babak baru. Kepergian Minke ke Batavia adalah awal perjuangan baginyauntuk negeri para pribumi. Minke mulai bersingunggan dengan Gubernur Jenderal Van Heutsz. Gubernur Jenderal Hindia “penakluk Aceh dan Bali” karena jasa sahabatnya yaitu Teer Har.  Minke pun juga  diundang dalam perayaan pengangkatan Gubernur Jenderal di Buitenzorg, Ini pula yang membuat dia sejajar dengan ayahanda Minke.

Minke belajar di Stovia hanya menjadi bagian sejarah hidupnya. Karena pada akhirnya,dia harus dikeluarkan dari Sekolah Elite itu. Pernikahan keduanya dengan Ang San Mei membangkitkan jiwa Nasionalisme. Ang San Mei pula yang mengenalkan organisasi kepada Minke sampai ajal menjemput Ang San Mei dan menjadi awal malapetaka yaitu gagalnya Minke menjadi Dokter Gubermen.

Ceramah Pensiunan Dokter Jawa membangkitkan Minke untuk melakukan sesuatu untuk pribumi. Minke dalam kebingungan menerjemahkan pidato sang pensiunan dokter jawa maka tampillah Ang San Mei untuk memahami pidato itu

Minke pun mendirikan “Medan Prijaji” sebagai alat perlawanan terhadap ketidakadilan yang menimpa Pribumi. Koran pertama di Hindia yang berbahasa Melayu, dari dan untuk pribumi. Penerbitan Koran ternyata belum efektif dalam mencerdaskan Pribumi maka perlu Organisasi. Ini sesuai dengan yang disampaikan sang Pensiunan Dokter Jawa.

Kekecewaan Minke terhadap Boedi Oetomo  yang hanya untuk Jawa dan Khususnya Priyayi maka Minke mendirikan Sjarikat Prijaji. Minke dibantu Thamrin Mohammad Tabhrie mendirikan Sjarikat Prijaji. Sjarikat ini mampu mendongkrak tiras “Medan Prijaji” hingga ribuan eksemplar.

Sjarikat Prijaji juga melakukan advokasi hukum terhadap pribumi yang ditindas oleh Totok Belanda, Arab, Cina maupun Indo. Ribuan rakyat pribumi telah dibelanya melalui sjarikat dengan menyewa pengacara Belanda.

Sjarikat bubar karena digerogoti dari dalam. “Medan Prijaji” melakukan advokasi sendirian dengan seorang pengacara handal Hendrik Frischboten. Pengacara ini tidak mengenal lelah dalam melakukan advokasi melawan ketidakadilan.

Gairah berorganisasi Minke meletup, berdirilah Sjarikat Dagang Islam. Minke dibantu kawannya Thamrin Mohammad Tabhrie, Sandiman, Marko, Wardi dan istri ketiganya Prinses Kasiruta. Azas Organisasi ini adalah Islam.

Organisasi ini berkembang dengan pesat karena tidak ada pembedaan antara priyayi dan rakyat jelata. Tiras “Medan Prijaji” semakin meningkat seiring perkembangan Sjarikat Dagang Islam. Perlawanan terhadap penindasan semakin berkobar.

Minke bersinggungan dengan ilmu baru yaitu Boycott atau pemogokan. Suatu tindakan masal yang berpengaruh besar terhadap kehidupan ekonomi khususnya untuk Industri Gula di Jawa. Minke mencoba mengenalkan  strategi ini kepada pimpinan pusat Sjarikat Dagang Islam. Akibatnya sangat signifikan yaitu perpecahan di Sjarikat Dagang Islam.

Minke terus maju dengan strategi boycott. Anggota berduyun-duyun ke Sjarikat Dagang Islam versi Minke. Ribuan orang bersatu dibawah kepemimpinan Minke. Satu kesalahan fatal dilakukan oleh “Medan Prijaji” bukan oleh Minke namun fatal akibatnya.

“Medan Prijaji” memperolok-olok Gubernur Jenderal baru yaitu Gubernur Jenderal baru yaitu Idenburg. Karena  menggunakan kata-kata kotor dan menyudutkan sang Gubernur Jenderal. Ini menjadi alasan Pemerintah Hindia Belanda untuk menangkap Minke melalui Kepala Polisi Pangemanann.

Minke diasingkan ke Luar Jawa. Sjarikat Dagang Islam kehilangan figure pemimpin. “Medan Prijaji” kehilangan tokoh utama. Apa ini akhir segalanya? Tunggu di Novel selanjutnya dalam Tetralogi Pramoedya Ananta Toer yaitu “Rumah Kaca”.       

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , | Tinggalkan komentar

Anak Semua Bangsa


Minke, anak Bupati Bojonegoro telah mengalami berbagai peristiwa yang berkaitan dengan pemerintah Hindia Belanda. Minke sudah menikmati privilegium statusnya sebagai priyayi. HBS yang mematangkan daya intelektualitas. Status Minke yang diatas bangsa dia sendiri menyebabkan kekagumannya kepada eropa semakin membuncah.

Kekagumannya sedikit ternoda dengan peristiwa pengadilan Belanda atas dirinya dan mertuanya “Nyai Ontosoroh” ( Novel : Bumi Manusia). Kebahagiannya memiliki istri Indo harus berakhir dalam waktu singkat. Istrinya yang dipuji-puji harus meninggalkan tanah Hindia menuju Nederland.

Karena Annelies hanya seorang Indo bukan Totok maka bukan kebahagian atas dia melainkan penderitaan yang berujung kematiannya. Meski bersedih, Minke masih meyakini bahwa ” Belanda hanya mengambil kekayaan alam jawa dan Raja-raja Jawa masih lebih kejam karena tidak hanya harta yang diambil namun juga istri-itrinya”. Belanda tidak pernah mengambil istri orang.

Keyakinan ini mulai goyah setelah pertemuannya dengan Surati dan lebih bergemuruh lagi setelah bertemu dengan Trunodongso. Trunodongso, petani yang tidak berdaya menghadapi kejamnya Kapitalisasi Industri Gula Belanda. Ternyata, Semangat “Revolusi Prancis” yang didengung-dengungkan eropa hanya untuk bangsa mereka sendiri bukan untuk kaumnya, bangsa jawa

Pertemuannya dengan Khok Au Suew, seorang revolusionis Cina semakin mengukuhkan kegelisahan atas bangsanya. Berita dari seberang lautan, Filipina membuat Minke merasa semakin gelisah akan eksistensinya sebagai bangsa. Bangsa yang selalu inferior di hadapan eropa sampai saat ini.

Mata Minke terbelalak karena Jepang dianggap sejajar dengan eropa karena kemajuan bangsanya. Meiko, pelacur jepang piaraan Babah Ah Chong, mempunyai derajat lebih tinggi karena dia bangsa jepang. Joserizal harus dihukum mati karena perlawanannya kepada Spanyol dan menjadi korban opera sabun antara Amerika dan Spanyol.

Pertemuannya dengan Teer Har membuat dia menyadari yang dinamakan “Nasionalisme”. Inilah yang ditakuti pemerintahan saat itu, dibalik istilah “Nasionalisme” sebenarnya Pramoedya diduga mengajarkan marxisme dan lenninisme. Perjalanan Minke dari Semarang ke Surabaya via “Vorstlanden” (Surakarta- Yogyakarta) semakin membuat dadanya sesak. Wilayah yang subur dan makmur di sebelah tenggara pulau jawa telah dikuasai oleh tuan tanah Belanda.

Tulisan-tulisan Minke mulai bergeser menjadi lebih humanis. Pembelaan terhadap bangsanya mulai terasa dalam tulisan-tulisannya. Minke sangat kecewa ketika tulisannya diplintir oleh sahabatnya Martin Nijman, seorang totok belanda sekaligus redaktur S.N v/d D. Tulisannya tentang perjuangan Khouw Ah Soe dalam pelariannya ke Jawa dari Cina.

Tulisannya tentang Trunodongso membuat Nijman marah. Karena koran S.N v/d D adalah koran yang dibiayai pabrik Gula padahal Tulisan Minke mengungkap borok pabrik gula. Minke mulai menyadari adanya ketidakdilan atas bangsanya.

Minke adalah seorang priyayi jawa yang menikmati fasilitas dari orang eropa yang menjajah bangsanya. Sahabat-sahabatnya, Jean Marais dan Kommer mendesak Minke untuk menulis dalam bahasa Melayu. Gengsi kepriyayiannya ternyata masih kuat maka dia belum bersedia. Minke masih merasa rendah jika harus menulis dalam bahasa melayu. Bahasa kelas dua

Konflik Minke dengan ir. Maurits Mellema semakin menguatkan bahwa bangsa eropa telah merendahkan bangsanya. Rangkaian peristiwa yang dialami oleh Minke menyadarkan bahwa semua manusia adalah “Anak Semua Bangsa”. Anak-anak manusia yang mempunyai hak, martabat dan harga diri yang sama di dunia ini.

Mengapa Hindia harus lebih rendah dari Indo? Mengapa Indo harus lebih rendah Totok? Mengapa Cina lebih rendah dari jepang? Mengapa Jepang harus sejajar dengan eropa padahal orangnya mirip dengan cina?

Pertanyaan ini semakin membuncah. Mengapa semangat “Revolusi Perancis hanya untuk eropa/ mengapa Asia harus menjadi budak eropa?

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , | Tinggalkan komentar

BUMI MANUSIA

Image

Bumi Manusia adalah hasil karya sastra yang menarik dari penulis Pramoedya Ananta Toer. Novel ini adalah bagian dari Tetralogi Novel yang disusun oleh penulisnya. Tetralogi ini adalah Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

Setting novel tersebut yaitu awal tahun 1900-an di daerah Tulangan Wonokromo Surabaya. Masyarakat saat itu adalah masyarakat Hindia Belanda ( Indonesia belum lahir?) dibawah kekuasaan Kerajaan Belanda.

Seolah-olah tidak ada masalah dengan masyarakat saat itu. Semua aman, tentram dan damai. Kehidupan masyarakat berjalan normal. Negeri yang aman dan tentram. Masyarakat yang majemuk terdiri dari Totok, Indo, Cina dan Pribumi.Pribumi juga tidak mempermasalahkan jika mereka dibawah kekuasaan bangsa eropa dan menjadi masyarakat kelas paling bawah di negeri sendiri.

Apalagi transfer teknologi sedang berjalan di negeri ini missal : Pabrik Gula, Pengolahan Susu, Kereta Api dsb. Kemajuan bangsa eropa juga ada di negeri ini yang dikenal sebagai Negara Hindia bukan Indonesia. Pribumi terbuai dengan keadaan itu, tidak ada perlawanan rakyat seperti di Aceh, Sumatera Barat atau Sulawesi.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Minke. Anak seorang Bangsawan keturunan dari Bupati daerah Bojonegoro Jawa Timur. Minke hidup dalam kecukupan dan berpendidikan Belanda yaitu di HBS. Minke mempunyai kelebihan yaitu bidang tulis-menulis dan kecerdasan yang baik.

Interaksi Minke dengan Nyai Ontosoroh memberi pengalaman yang membekas bagaimana begitu buruknya harga diri pribumi di hadapan Belanda. Hukum pemerintah Hindia Belanda memperlakukan mereka secara semena-mena. Karena dia seorang pribumi. Begitu pula yang terjadi kepada Nyai Ontosoroh.

Nyai Ontosoroh yang pandai, cakap dan kaya raya harus kehilangan segala-galanya Karena dia seorang pribumi. Pemerintah Hindia Belanda tidak mengakui bahwa  Annelies adalah putrinya meskipun dia yang melahirkan. Karena Ayahnya adalah Orang Belanda Totok yaitu Herman Mellema.

Perjuangan mendapat pengakuan anak terekam dalam sidang pengadilan Belanda antara Pribumi melawan Pemerintah Belanda. Itu adalah sidang pertama kali antara Pemerintah Belanda melawan pribumi dalam kekuasaan Pemerintah Belanda di Indonesia.

Perlawanan begitu sengit baik melalui jalur hukum maupun media seakan-akan sia-sia.Koneksi Minke yang begitu luas baik dari Pribumi maupun Orang Totok Eropa seolah-olah tidak ada harganya. Hanya karena Nyai Ontosoroh dan Minke adalah Pribumi.

Peristiwa ini sangat membekas di sanubari Minke. Bangsa ini kalah oleh dirinya sendiri. Bangsa ini kalah karena tidak mempunyai harga diri seperti cacing yang melata. Seperti pernyataan Tuan Asisten Residen Wilayah B, “ Tahukah kalian apa yang dibutuhkan bangsa cacing ini?Seorang Pemimpin yang mampu mengangkat derajad mereka kembali”

 

Semua itu membentuk sebuah kesimpulan bahwa Kemajuan dan Kemakmuran di bumi Jawa ini adalah semu belaka. Semua ini adalah penjajahan atas harga diri sebuah bangsa. Minke ingin menjadi pribadi yang mandiri dan bebas dari stratifikasi sosial ( classless civilization) atau menjadi Bumi Manusia.

Karena novel Bumi Manusia membicarakan manusia yang sama atau manusia tanpa kelas maka membuat Pemerintah Orde Baru ( 1980) melarang peredaran buku ini. Karena disinyalir mengajarkan Marxisme  & Leninisme. Meskipun, Buku ini sudah terjual 22000 eksemplar saat itu. Pemerintah hanya mampu menarik 5000 eksemplar novel ini.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Sejarah Hidup Muhammad (Muh Husain Haekal)

Sejarah Muhammad telah ditulis dalam berbagi versi, mulai versi Ibnu Ishaq, Ramadhan Al-Buthy, Mubarakfurry  sampai dengan versi orientalis semacam  Washington Irving & Karen Amstrong. Penulis sejarah Muhammad berasal dari berbagai kalangan mulai muslim dan non muslim. Tujuan penulisan juga bermacam-macam mulai memuji,  sampai dengan mengungkap titik lemah berdasarkan logika penulis sendiri.

Haekal menulis buku ini dengan judul asli “Hayat Muhammad”. Beliau adalah Sastrawan, Wartawan, Politikus dan juga Diplomat. Penulisan Hayat Muhammad sangat terpengaruh latar belakang beliau yang tertera diatas.

Latar belakang Haekal yang seorang wartawan membuat sejarah nabi Muhammad menjadi sebuah naratif yang komplit dan urut.. Detail-detail peristiwa terpapar dalam buku ini.juga terasa karena latar belakang jurnalistik.

Gaya bahasa, Pemilihan kata dan Kiasan-kiasan yang dipakai membuai pembaca. Pembaca yang memiliki sense of literature bisa merasakannya. Ini juga pengaruh dunia sastra yang digelutinya.

Penulisan Sejarah Nabi Muhammad SAW dimulai dari asal-usul bangsa arab, kelahiran Nabi Muhammad SAW , masa kecil, remaja sampai masa kenabian dan wafat Nabi Muhammad SAW. Sesuatu yang unik dan essensial dalam buku ini adalah pembelaan Haekal atas Nabi Muhammad SAW terhadap Orientalis yang menyerang Nabi Muhammad SAW.

Haekal yang pernah menjadi wakil Mesir di PBB memberi pengalaman bagi dirinya di dunia Diplomasi. Pengaruh dunia diplomasi juga memberi warna tersendiri dalam buku ini. Sekali lagi, Gaya Diplomasi sering digunakan Haekal dalam rangka pembelaannya terhadap Nabi Muhammad SAW terhadap serangan para Orientalis.

Sebagaimana contohnya adalah kritikan Haekal terhadap tulisan Washington Irving tentang Muslimin dalam bukunya yang berjudul “Mahommet dan His Succesor”. Irving menyatakan bahwa Muslimin adalah yang terbiasa hidup dengan pola”Maju Perang jika Mati Masuk Surga dan Jika selamat dari Perang Mendapat Ghonimah”. Maka, Muslimin setelah masa perang menjadi manusia yang statis/fatalis. Karena merasa jalan hidupnya sudah ditentukan Allah SWT sampai mati. Ini adalah Jabbariah.

Haekal membantah bahwa Perang dalam usaha mengumpulkan kekayaan dan memperluas tanah jajahan. Perang adalah membela diri terhadap gangguan luar Islam. Adapun penyerangan keluar adalah untuk memperkuat posisi Islam di Jazirah Arab. Apabila mau masuk Islam maka dilindungi dan jika tidak mau masuk Islam maka membayar Fidyah.

Hal ini lebih manusiawi daripada Kolonialisasi Eropa atas Dunia. Penumpukan harta adalah tujuan utama kolonialisasi yang dibalut dengan misi agama. Bangsa-bangsa yang diperangi tidak hanya membayar pajak namun disedot semua kekayaan alamnya.

Muslimin bukan manusia statis yang fatalis. Muslimin adalah manusia yang meyakini pertolongan Allah SWT. Apabila pertolongan Allah SWT datang maka kemenangan dan ghanimah mesti didapatkan. Jika Allah menghendaki kematian maka syurga menanti.

Jabbariah tidak sama dengan Fatalisme. Ini yang Haekal jelaskan dalam buku ini. Ini menjadi istimewa karena Logika berpikir eropa yang menyerang Islam dilawan dengan pembelaan yang menggunakan Logika Eropa pula. Ini menjadi nilai plus buku ini.

Pembelaannya logis dan sistemastis dengan menyertakan dalil-dalil dalam Al-Qur’an. Hal ini mungkin juga disebabkan karena Haekal adalah lulusan Universitas Sorbonne Prancis maka pembelannya menggunakan cara berpikir eropa pula yaitu rasional dan logis.

Haekal bukan aktivitis Islam dan bukan pula seorang ulama. Dia adalah aktivitis Partai Liberal yang bersinggungan dengan kekuasaan di Mesir di era Naseer. Ini menjadi titik lemahnya dia. Dia lebih mengandalkan Logika / Ra’yu. Padahal, Segala sesuatu yang berhubungan dengan perjuangan Islam kadang di luar nalar pula.

Buku ini menjadi “kering” karena mendasarkan kepada logika meskipun juga menyisipkan ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat-ayat Al-Qur’an menjadi penguat logika bukan sebaliknya. Meskipun. Tulisan Haekal memang sudah dikoreksi oleh Prof Syekh Maraghi namun aroma logika dan rasionalitas lebih kuat.

Buku yang terbit di awal 1900-an seolah menjadi jawaban atas kritikan dari para Orientalis. Buku yang bergenre sama dengan Orientalis Barat namun bertujuan membantah mereka. Ini bagai oase di tengah-tengah gurun. Buku yang memberi pembelaan terhadap Islam. Karena saat itu, Khilafah Islamiyahdi Turki mengalami kejatuhan pada tahun 1924.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , , | Tinggalkan komentar